Tuesday, January 21, 2014

Tenang

Hari itu, mungkin tidak jauh ketika seorang laki-laki mengingat sembilan tahun yang lalu dan perjalanan di atas kereta di bangku tengah, menuju Jakarta. Kota oranye katanya. Aku tidak tahu menahu.

Di suatu malam gempita, waktu dan ceria membawa aku menjadi konyol. Laki-laki itu tertawa dengan kepala plontosnya, kepala yang di dalamnya menyimpan cerita sembilan tahun yang lalu dalam perjalanan di atas kereta di bangku tengah. Mendengar harmonica dan gadis yang berdansa sendirian, melambat dan tenang. Aku tidak tahu. Aku tidak tahu, kalau itu dia laki-laki yang dibicarakan orang-orang. Aku tidak perduli. Aku tidak mau tau.

Bagiku sudah lima tahun yang lalu, saja. Perjumpaan. Sejak hari itu, aku tidak tahu kalau aku menunggu.
....

Hari ini, senyumku untuk bisa mendengar cerita, tentang punggungnya, sambil bersandar di punggungnya, tandanya ia kuat meski kadang tidak tegap. Cerita tentang dongeng dan pelajaran, bukan dari bangku yang dia selesaikan, tandanya ia tak berhenti. Cerita tentang belasan tahun yang lalu di sebuah rumah sewa yang nyaman tanpa sepatah kata, tandanya aku dipercayainya. Tentang darah di balik kulitnya yang kusentuh, tanda ia telah diterima.

Gadis yang ini tidak berdansa sendiri, tidak ada harmonica, tidak ada suara.
Hanya ruang di jantungnya yang tetap oranye. Karena laki-laki itu menari di dalamnya. Mereka di sepanjang trotoar kota yang bising, "Tenang, ujarmu tenanglah..."

Berapapun tahun yang telah berlalu, terimakasih karena ceritanya telah memberi hari ini.

Tiaradewi :)
22 Januari 2014

No comments: