Showing posts with label alkisah. Show all posts
Showing posts with label alkisah. Show all posts

Monday, April 28, 2014

Pak Abot

Jum’at petang, ketika Jakarta baru saja diguyur hujan dan menyisakan anak-anak gerimis yang merintik di genangan-genangan terminal Blok M. Langit senja mulai menua dan gelap. Aku sudah di atas bis kota yang sebentar lagi sesak. Kupilih duduk dekat jendela, bangku paling depan. Bis berjalan lamban keluar dari terminal, satu per satu kaki-kaki becek memenuhi bis. Jejak gerimis dibawa oleh blus blus berkerah penumpang bis. Deretan bis kota mengantri keluar dari terminal, berwarna-warni, berbasah-basahan.

Jauh di belakang bis yang kutumpangi, dialah pak Abot. Pria usia limapuluhan, berbadan gemuk, sampai perutnya membuncit, badannya tidak bisa dibilang tinggi. Mungkin terlihat lebih pendek karena badannya yang gempal. Dari belakang, dia mencoba berlari kearah bis yang aku tumpangi. Aku pikir dia berlari, dia sedang berlari, dengan satu kakinya yang pincang. Wajahnya meringis menahan sakit di kakinya. Membawa kresek hitam, cukup besar, yang dipegangnya erat, erat sekali. Ujung celananya basah karena jalan becek. 

Tuesday, January 21, 2014

Tenang

Hari itu, mungkin tidak jauh ketika seorang laki-laki mengingat sembilan tahun yang lalu dan perjalanan di atas kereta di bangku tengah, menuju Jakarta. Kota oranye katanya. Aku tidak tahu menahu.

Di suatu malam gempita, waktu dan ceria membawa aku menjadi konyol. Laki-laki itu tertawa dengan kepala plontosnya, kepala yang di dalamnya menyimpan cerita sembilan tahun yang lalu dalam perjalanan di atas kereta di bangku tengah. Mendengar harmonica dan gadis yang berdansa sendirian, melambat dan tenang. Aku tidak tahu. Aku tidak tahu, kalau itu dia laki-laki yang dibicarakan orang-orang. Aku tidak perduli. Aku tidak mau tau.

Bagiku sudah lima tahun yang lalu, saja. Perjumpaan. Sejak hari itu, aku tidak tahu kalau aku menunggu.
....

Saturday, December 14, 2013

Maschera

Tiara's first painted mask
This world is a scene, where we don't need to race to the top. What we want to do is reach the other hand, then we get to know each other before we got to see what we looked like under the mask. No matter what faces we use, we will continue to dance and fall in love.
- Tiaradewi -



Dec 14th 2013
Photos from Google and Deviantart

Thursday, October 24, 2013

Surat Balasan untuk Bapak

"...gadis kecil yang baru saja bangun. Dia berlari-lari, di halaman rumahnya, menyusuri pepohon dan taman..."

Pertama kali denger Galih nyanyi lagu itu, aku langsung suka. Suka sekali. Terbayang bapak-bapak yang repot jagain anak perempuannya lari-lari dengan gaun yang mekar warna putih. Khawatir anak perempuannya jatuh, terus gaunnya jadi kotor.

Bapak adalah dimana laki-laki akan menjadi. Seperti halnya perempuan membicarakan kalau nanti dia akan menjadi seorang Ibu. Kesetaraan kan? Bukan keadilan. Maka, sekarang, akan aku cerita tentang bapak, seperti aku mengagungkan perempuan.

Friday, October 18, 2013

SIOTOY #2

Senandung Ibu dan Anak dari cerita Siotoy. "Mau jadi apa, nak?"
O Mother Earth, I want to be sun
Shining all the universe
center of life

O Mother Earth, I want to be water
It's all they need to live our life

O Mother Earth, I want to be rainbow
while the light and water

meet at one time

O Mother Earth, I want to be teacher
like sun water and rainbow
remedy of life

If you want to see you through heart
Just find the joy of will to share

"Ini bahasa Inggrisnya bener apa nggak ya?", "Gak tau, nanti tanya Pak Ono aja".

Tiaradewi :)
Delapanbelas Oktober, duaributigabelas. Sehari setelah lulus sidang sarjana.
Bersama Galih, gitar dan buku catatan. Di atas Pelangi.
Kemudian datang teman-teman...

Nyanyian kami langsung direkam oleh Galih malam itu, dan beberapa waktu lalu diunggah ke sini

Saturday, July 27, 2013

Dila

“Capek, cewek harus gini harus gitu..”

“Harus gini gitu gimana?”

“Dila nggak boleh keluar malem, Dila harus bisa masak, Dila harus nurut sama suami kalo nanti udah nikah…”

“Ha? Emang Dila mau nikah sama siapa Dil??”

“Yey, bukan mau nikah sekarang. Tapi bapak emak Dila selalu bilang gitu. Tadi gara-gara Dila ijin mau pergi nanti malem”

“Nanti malem? Ini juga udah jam 11, Dila. Mau pergi jam berapa? Dila mau ke mana? Ngafe ya? Gaul amat lu, Dil.”

“Sotoy lu, sama aja kayak emak ama bapak.”

“Mereka sotoy karena takut elu ngapa-ngapa. Sama, gua juga takut lu digebet cowok laen.”

Saturday, November 17, 2012

Payau Ngeteh

Lanjutan dari Payau ...

Payau sedang melamun. Payau hobby sekali melamun belakangn ini. Setelah melamun, biasanya Payau tertidur. Kelelahan berpikir. Kemudian dalam tidurnya dia bermimpi:

Di Padang rumput yang gersang payau berjalan. Hey, pelangi. Apa kabarmu. Hari ini panas.. Biasanya kalo ada seorang teman dia akan bertanya, "panas banget apa panas aja.." hahaha.
Pelangi, kamu pikir aku tidak bisa menemukanmu. Kamu itu energy, terbias, dan berwarna.. Aku yang sedang lelah ini juga berwarna, mungkin karena tidak ada hujan. Tapi aku lelah. Ah, berkata apa aku ini, seharian aku hanya melamun.
Aku ingin terbang... Aku ingin terbang... 
Payau berjalan dalam mimpinya, melewati rumput kering sampai ia berada di rumput yang lebih hijau, dan ditumbuhi kamomil liar... yang melewati batas pagar. Payau mengambil kamomil kamomil itu. Kemudian menyebrangi pagar kayu yang membatasinya dengan hamparan kamomil yang lebih luas...


Payau terbangun. Kepalanya sakit. Jantungnya berdebar kencang. Ia belum belajar terbang hari ini, esok lusa akan ada pertunjukan terbang lagi.. Orang-orang desa akan datang untuk melihat apakah payau sudah bisa terbang atau belum. Dan sedari tadi dia hanya melamun. 

Mungkin ada hal lain yang bisa payau kerjakan. Payau butuh sesuatu untuk menenangkan dirinya. Untuk meyakinkan dirinya. Di genggaman tangan Payau ada beberapa bunga Kamomil....

Hmmm... Mungkin waktunya untuk secangkir teh Kamomil...



tiaradewi :)
Bekasi, 17 November 2012

Foto : 
Padang Chamomile diambil dari Wallpaperswide.com
There's Tea Between A Mess and Wisdom (foto kedua) diambil dari dokumentasi pribadi.

Monday, August 20, 2012

Payau

Namanya Payau, dia baru belajar terbang. Rahim dan tangan yang mengasuh yang mengajarinya terbang. Payau berlari. Terlalu jauh. Dia harus terbang kalau tidak ingin masuk jurang. Payau meloncat. Terlalu rendah. Angin tidak bisa menghantamnya sampai terbang. Dia lakukan berulang kali. Payau tidak sendiri. Payau disaksikan mata-mata yang melihatnya lahir. Mata-mata yang pernah mencoba terbang. Berhasil dan gagal. Tinggi dan mengharap Payau lebih dari itu.


Sesekali Payau lelah, kemudian ia pergi ke kebun untuk mencari mata air. Memetik buah kesemek yang tidak dia suka. Tapi apa mau dikata, perutnya lapar. Payau tidak pernah menanti kapan dia terbang. Dia hanya melakukannya saja. Itu yang dia tau. Sampai nanti, dia bisa sadar bahwa dia bukan hanya sedang mempelajari terbang. Kemudian Payau pulang berjalan kaki menuju rumahnya, pohon Ek.


.......



tiaradewi :)

Wednesday, February 8, 2012

SIOTOY

Anak : Bu, aku berangkat sekolah dulu.
Ibu : Yang rajin, biar jadi bintang kelas.

Pulang sekolah, di rumah.

Anak : Bu, aku udah jadi bintang kelas.
Ibu : Cepet amat, belom juga bagi rapot.
Anak : Semua temen kelasku juga diminta jadi bintang kelas sama orang tuanya. Bintang kan banyak tuh, bisalah kalo semua jadi bintang. Hebat kan bu, aku sama temen-temenku tuh bintaaang!
Ibu : Kamu jadi bintang yang paling terang berarti, bisa nggak? Kayak matahari noh.

Keesokan harinya, pulang sekolah juga, dirumah juga...

Sunday, June 28, 2009

Sebuah Botol Mineral

Jakarta. (hanya) antara Senen - Kebon Sirih

Sebuah kendaraan bernama bajaj membawa saya melaju santai menuju Kebon Sirih.
Rasanya Jakarta makin panass'!::

Laperr.

Aha .. di tas saya masih ada roti.

Seperti orang kelaperan pada umumnya "apa juga enak", saya nggak mikir ,, saya nggak punya minum !!
Di antara setir bajaj dan kaca depan nyangkut sebuah botol minum Aqua gede yang udah lusuh. Saya juga nggak ngerti, air di dalamnya lusuh juga atau cuma gara-gara botolnya aja.

Tapi ditengah ke 'seretan' nelen roti, air itu jadi amat jernih. Ditengah macet lampu merah (macet apa lampu merah sih!), abang bajaj menegak air dalam botol yang dari tadi mecuri perhatian saya. Glek .. Glek .. ahh . Makin auss.
Setelah melepas dahaga abang bajaj itu mngelap keringat yang dari tadi netes.
Buset tu muka langsuk diosek aja kayak ngamplas.

Namun tiba-tiba pikiran saya melayang ::