Showing posts with label menjadi manusia. Show all posts
Showing posts with label menjadi manusia. Show all posts

Sunday, July 2, 2017

Of Mice and Men

"I got you to look after me, and you got me to look after you."


Lennie Small yang berbadan besar dan bodoh, selalu percaya bahwa George yang sabar dan pintar akan selalu bersamanya.

Lennie tidak bisa banyak berpikir, apalagi mengingat. Depresi besar perekonomian kala itu tidak menyentuh kepala Lennie-Lennie di dunia ini. Lennie hanya tau bahwa iya telah dianggap melakukan kesalahan dan harus mencari pabrik jelai lain untuk mendapatkan upah. Namun, Lennie selalu menyimpan keyakinan:

Ia yakin suatu hari nanti dirinya dan George akan mengumpulkan uang dan membeli rumah kecil, beberapa bidang tanah, dan sapi dan beberapa babi, dan hidup di tanah yang subur. Mereka akan menanam apapun di kebun – ceri, apel, aprikot, kacang – dan kelinci di kandang, juga memeroleh susu dengan krim yang tebal. Saat hujan turun di musim dingin mereka akan katakan persetan dengan kerja dan mereka akan membuat api di perapian sambil mendengarkan suara hujan yang menyentuh atap rumah mereka.

Sementara George... George lebih banyak berpikir daripada Lennie. Seorang George menjadi kepala bagi Lennie untuk berpikir bagaimana mereka bisa terus hidup. Malang, dengan otak pintarnya, George berpikir cara untuk hidup, mungkin, adalah dengan melenyapkan keyakinan-keyakinan itu… mungkin. 

John Steinbeck sungguh-sungguh melukiskan kemalangan depresi besar perekonomian Amerika hanya dengan lembaran tipis cerita.

Sleman, 2 Juli 2017
Tiaradewi :)

Buat Izmy, terimakasih hadiah ulang tahunnya 💙

Sunday, May 18, 2014

Lachen is Gezond

Tertawa itu sehat. Sehat itu priceless...
Akhir-akhir ini, saya sering sakit, saya sedang kangen sama banyak hal. Sampai-sampai saya bingung, kenapa banyak sekali ya? Setelah melalui berbagai kontemplasi di kamar mandi, saya jadi paham, ‘banyak hal’ yang saya kangenin itu punya benang merah yang menghubungkan satu sama lain... Tertawa! Iya, saya kangen ketawa “ha ha ha ha” gitu!

Bukan hanya bikin saya jadi sarjana, tapi tertawa membuat saya belajar banyak sekali hal. Karena itu, tertawa membuat saya kangen sama banyak hal.

Mungkin karena rasanya enak. Tertawa dengan dengan sungguh-sungguh karena suatu hal yang lucu itu bagaikan perpaduan ragawi, duniawi dan surgawi. Kemudian, mereka beri petanda fenomena itu dengan sebutan: humor.

Humor, dalam doktrin ilmu Faal Kuno, adalah cairan dalam tubuh manusia yang terdiri dari empat macam: cairan darah, lendir, cairan empedu kuning dan cair empedu hitam. Berabad-abad lamanya, nenek moyang kedokteran kita menganggap keempat cairan tersebut menentukan temperamen seseorang.

Kini, humor dikatakan sebagai sesuatu yang merangsang kita untuk tertawa. Humor itu lucu. Begitu saja singkatnya. Kalau harus berfilosofi apa itu lucu? Tidak akan singkat. Karena resep penciptaan dalam tawa akan berkaitan dengan banyak hal di dunia. Benar-benar tidak singkat! Humor atau lucu, tumbuh dari campuran cairan dan zat-zat dalam tubuh dalam menanggapi situasi di luar logika yang umum disepakati. Kadang berlebihan, kadang terbalik, kadang berbohong, kadang polos, kadang naïf dan macam-macam lagi teknik berlogikanya. Tidak ada benar dan salah menurutnya, asalkan tertawa jadi akibatnya.

Efeknya juga mencengangkan, nyatanya, tertawa bisa meredakan amarah, bahkan menjadikannya lebih parah. Tertawa bisa mengagalkan tangis, bisa juga sampai menangis. Tertawa akan memusuhi rasa benci, dan kadang menertawakannya sendiri.
 
“Sebuah humor melawan stigma ketika semua orang menutup mata” - Mood Altering
Pada sekat-sekat logika manusia yang angkuh, tawa mencoba melepas isolasi dengan cara dan efeknya yang unik. Membentuk lingkaran isolasi baru yang lebih besar dan dihuni lebih banyak orang. Seperti dikatakan Bergson, bahwa tawa adalah implikasi dari semacam rahasia bersama dengan para penertawa lain, nyata maupun imajiner. Itulah mengapa tertawa bersama akan mencairkan manusia pada kelompok kelompok budaya dan mananggalkan perbedaan sedikit demi sedikit.

Kalau tawa bisa melakukannya untuk sebuah kumpulan manusia. Saya percaya, tertawa akan memberi fungsi sama bagi organ-organ dalam tubuh seseorang. Karena tertawa begitu kenyal dan elastis. Saya cukup menelannya, membiarkannya memasuki diri saya, mengenali semua keburukan di dalamnya yang sempat tidak begitu akrab satu sama lain. Tertawa akan menggapai hal-hal yang tidak bisa dilawan, tertawa bisa mencium mimpi-mimpi dan fantasi yang tidak bisa diciptakan, tertawa akan mengajak kecemasan saya untuk tertawa!

Saya kangen ketawa. Saya kangen mengerti bagaimana tertawa, saya kangen mempersilahkan otak saya berpikir tentang kelucuan, kemudian menyalurkannya ke perut sampai sakit, membiarkan otot meregang, membuka mulut untuk mulai ikut tersenyum. Saat itu terjadi, cairan dan zat-zat dalam tubuh saling bercampur, dinamis menggerus racun-racun pembawa sakit, membuncah keluar lewat mulut yang bersuara “HAHAHA!”

Lachen is gezond, tertawa itu sehat. Begitu kutipan yang diletakkan (Alm) James Danandjaja di halaman awal Humor Mahasiswanya, saya sepakat untuknya. Dengan tertawa, berarti saya sudah mengijinkan sebagian ingatan dimuntahkan bersama racun-racun tubuh saya, karena akan ada memori baru yang membekas setelah tertawa lepas. Mereka sebut dengan, indikasi kebahagiaan.
  
 “People laugh and tell jokes, and if you can learn the humor of a people and really control it, you know that you are also in control of nearly everything else”- Hall (1959/1968:56)

Terimakasih buat semua yang pernah membuat saya tertawa bahagia, kalian tidak ternilai :*

Bekasi, 18 Mei 2014. 01.54 wib
Tiaradewi  :)

Sunday, December 15, 2013

Mengingat Kembali: “Bisa Dèwèk” We Can Do It Ourselves (2007)

Sebuah Film Dokumenter Etnografi hasil kerjasama antara IPPHTI (Ikatan Petani Pengendalian Hama Terpadu Indonesia) Indramayu bersama Program Sarjana Jurusan Antropologi FISIP-UI.

“Kini kami mau menjadi pemulia tanaman, memproduksi benih idaman.”
Kalimat di atas menjadi kalimat pembuka yang mewakili kisah perjuangan petani pemulia tanaman di Indramayu dalam film ini.

Visualisasi wayang kulit yang dimainkan dengan sederhana oleh Pak Karsinah, menampilkan sosok Semar yang merepresentasikan sosok petani dan Samiaji sebagai pihak pemerintah. Dalam kepustakaan antropologi, keberadaan petani dipercaya sudah muncul 6000 tahun yang lalu di Mesopotamia. Keadaan petani yang kita kenal sebagian besar kini, berbeda dengan masyarakat primitif yang lebih lanjut. Dalam masyarakat primitif ketika pengolahan lahan sudah dilakukan, produsen benar-benar menguasai sarana produksi, termasuk tenaga kerjanya sendiri dan menukarkan tenaga kerjanya sendiri dengan barang atau jasa lain sebagai padanan yang ditentukan menurut kebudayaannya. Sedangkan, petani selalu menjadi bagian dari sitem ekonomi, politik, dan budaya yang lebih luas dalam kedudukan yang lebih rendah (Mulyanto, 2011: 208). Layaknya Semar sebagai abdi kerajaan yang mengabdi untuk memuliakan anak cucu pandawa, membahagiakan bangsa. Dalam kedudukan yang rendah, petani mengambil peran penting kehidupan, makanan.

Saturday, November 16, 2013

Rupa Rumpi dalam Butik Kebaya

“Ini lehernya kelebaran, Mba.”

Oh ini, nanti mah bisa dikecilin.” Pegawai butik ini mengambil beberapa jarum, menjepit beberapa di giginya, sementara tangannya mengkaitkan jarum yang lain ke bagian leher gaun untuk penanda ukuran lingkar leher yang akan diperkecil. Gaun yang sedang berkaca di dalam sekotak ruang ganti itu dipakai Ibu muda, cantik tanpa riasan make up kecuali alisnya yang dibubuhi sedikit pensil alis. Gaun yang dia kenakan berwarna merah muda agak keunguan, bagian atasnya berbalut kain brokat, dan bagian bawahnya berbahan shifon berwarna senada menjulur panjang. Bagian brokat dengan bagian bawahnya dibatasi oleh kain metalik yang melingkari pinggang bagian atas, menampakan perutnya yang membuncit karena usia kehamilannya yang memasuki bulan ke-5.

“Eh,mba, kayaknya punya aku ini mau dikasih payet deh. Biar nggak polos-polos banget.”

Boleh, bisa kok nanti sekalian dikecilin yak, Senin wes jadi.”

“Maaaas, sini deh! Ini lengan sama lehernya aku tambah payet-payet ya? Kosong nih gini doang..”

Si mas manggut-manggut.

“Nambah berapa biayanya emang kalo dipayet-payet?”

….

Friday, October 18, 2013

SIOTOY #2

Senandung Ibu dan Anak dari cerita Siotoy. "Mau jadi apa, nak?"
O Mother Earth, I want to be sun
Shining all the universe
center of life

O Mother Earth, I want to be water
It's all they need to live our life

O Mother Earth, I want to be rainbow
while the light and water

meet at one time

O Mother Earth, I want to be teacher
like sun water and rainbow
remedy of life

If you want to see you through heart
Just find the joy of will to share

"Ini bahasa Inggrisnya bener apa nggak ya?", "Gak tau, nanti tanya Pak Ono aja".

Tiaradewi :)
Delapanbelas Oktober, duaributigabelas. Sehari setelah lulus sidang sarjana.
Bersama Galih, gitar dan buku catatan. Di atas Pelangi.
Kemudian datang teman-teman...

Nyanyian kami langsung direkam oleh Galih malam itu, dan beberapa waktu lalu diunggah ke sini

Thursday, August 15, 2013

Perihal Slapstick: Menertawakan Ketertindasan

Tulisan ini bermaksud agak melihat kaidah yang lebih kontekstual dari tertawa, karena selera humor manusia itu berbeda-beda. Humor bangkit dari budaya dan psikologis manusia. Anggaplah, batasan humoris di sini adalah seberapa banyak seseorang mampu membuat lucu hal-hal di sekitar dan tertawa karenanya. Kalau begitu, orang kita ini, nampaknya sangat humoris. Kita senang tertawa - menertawai sesuatu, menertawai diri sendiri, menertawai kesalahan, dan menertawai yang tidak bersalah - hampir disetiap sisi kehidupan kita. (Yang kurang setuju, mungkin konsep humorisnya berbeda dan itu bukan masalah. Lain kesempatan kita bahas batasan humoris yang lain.)

Televisi, media yang masih setia menemani sebagian besar masyarakat Indonesia tertawa bersama acara-acaranya. Siaran televisi mentransformasikan aneka jenis tawa di kehidupan sehari-hari ke dalam interaksi drama komedi yang belakangan ini dinilai cukup slapstick. Mungkin, sudah banyak komentar miring tentang komedi macam ini di televisi (menyiram orang dengan bedak/tepung, memukul dengan streofoam, saling menghina fisik, dll). Adanya trend komedi slapstick di televisi tidak sekonyong-konyong membuat pemirsa di rumah dan studio tertawa tanpa alasan.

Thursday, August 8, 2013

Ucapan Buat Kamu

IDUL FITRI 1434 Hijriah jatuh pada tanggal 8 Agustus 2013. Tok.. tok.. tok..
Demikian sidang Isbat dilaporkan dari kantor Kementrian Agama. Alhasil bagi mereka yang udah masak, gak jadi ngedumel karena santapan tidak jadi delay untuk dinikmati. Alhamdulillaaah, yeaaaay!


Taqabballahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum. Kullu am wa antum bi khair.

Semoga Allah menerima (amalan) dari kami dan darimu, puasaku dan puasamu. Semoga kebaikan meyertaimu sepanjang tahun.
Amin.

Selamat bersukacita di hari raya kita bersama.
MOHON DIMAAFKAN LAHIR DAN BATIN TIARA SEKELUARGA YA :)

Bekasi, 8 Agustus 2013

Tuesday, January 15, 2013

Nyi Roro Kidul, Horor dan Pembelajaran

Semalem, sayup-sayup kedengeran suara dari televisi. Pembahasannya begitu mistis, sarat dengan penculikan ajaib, bencana, dan bla bla bla… Ternyata saya ketiduran ketika tv belum dimatikan. Sambil mencari remote tv, mata yang udah sepet banget ini ngeliat makhluk-makhluk berwarna hijau muncul di acara tv itu. Ternyata itu talkshow, Bukan Empat Mata Si Tukul. Yang saya ingat, komposisi orang-orang yang duduk di deretan talk show itu terdiri dari Pepy, Bapak Gelap, Ibu (kebaya) Ijo, Wanita Cantik berbaju ijo (yang katanya artis), dan Tukul.

Denger dari sayup sayup pembahasannya sih mistis, ditambah lagi suara backsoundnya. Seperti biasa, dengan bahasannya saat itu: Ratu Pantai Selatan, Indonesia selalu jadi mistis dan horor. Ibu Ijo bercerita …....... Hm, mungkin ketika dia cerita saya masih tertidur. Yang saya simak adalah ketika dia lagi di pantai di luar negeri ada gelombang yang sangat besar sampai menghanyutkan banyak orang di sana, tapi dia tidak basah sedikitpun. Gelombang laut yang datang seolah menghindari sekeliling badannya, atau bahasa lainnya si Ibu Ijo itu ‘dilindungi’. Sementara Bapak Gelap, yang pakaiannya emang item-item, menceritakan pengalamannya melukis rupa Ratu Pantai Selatan, dan lukisannya malam itu menjadi pajangan di studio talkshow.

Perempuan dan Horor

Bolong for Good

Seorang teman baik bercerita tentang masa lalunya. Setelah di itung-itung, kayaknya jari tangan nggak cukup mewakili berapa tahun Tessa pernah menjadi pecandu narkoba. Menurut pengakuannya, kira-kira 11 tahun Dia pernah menjadi pecandu dari berbagai macam jenis obat-obatan yang saya pun nggak ngerti. Yang saya tau ada yang di bakar, di sedot melalui hidung, di minum, sampai yang disuntikkan ke pembuluh darah. Dan cerita Tessa di malam itu terdengar akrab dengan berbagai macam cara make obat-obatan. Kami bercerita dengan santai, tertawa tentang pengalaman itu, tapi satu hal yang tidak saya lupa adalah pada awal perbincangan kita di awal tahun itu: “Umur gua itu 28 di kurangin 11 tahun, selama 11 tahun itu gua make, ya kayak hilang gitu aja.”

Harapan 2013: Mesin Waktu yang Budiman

Tahun baru dimana? Itu pertanyaan paling populer menjelang tanggal 1 Januari setiap tahun. Dari kecil, malah, dari lahir, sampai menginjak hampir 23 tahun hidup saya, tidak sampai lima kali saya berada di luar rumah pada saat detik detik pergantian tahun. Pada tanggal-tanggal itu seolah-olah lingkungan menurut pandangan saya menuntut untuk mendapatkan jawaban selain: "di rumah aja".

Kemudian pada sebuah kebodohan, seperti perang batin antara: "sangat ingin tahun baruan seperti orang di jalan-jalan dan kembang api"; "lalu di rumah Ibu sama siapa?", sampai akhirnya "taun baruan kenapa dirayain sih?". Lahirlah sebuah pertanyaan akhirnya. Apa yang sebenarnya kita rayakan pada saat tahun baru?

Kata Wiki, tahun baru itu sebuah usaha umat Kristen pada saat itu untuk menetapkan kelahiran Isa atau Yesus. Saya masih kurang paham, perbedaannya dengan Hari Raya Natal. Semoga saja tulisan ini dibaca orang dermawan yang mau memberitau saya kronologisnya.

Sunday, December 23, 2012

Penyemangat Bertaman

"Temen-temen, kira-kira di masa depan bagaimana ya?" saya buka pertanyaan. Dan, ada jawaban menarik dari pria kecil berkaca mata, "Banyak pohon, Kak!" saya tanya lagi, "Kenapa?" dia menjawab, "Kan, kita semua yang tanemin pohon, Kak." Hmm...
"Terus, ada apa lagi?" perempuan kecil berambut keriting bilang "Robot penanam bunga!"

Begitu kira-kira cuplikan percakapan Kak Galih seorang teman belajar di Rumah Belajar Semi Palar, mereka sedang membicarakan dan bernyanyi tentang Bumiku di Masa Depan. (klik untuk selengkapnya)

Berbicara tentang pohon, bunga, saya selalu berimaji tentang taman. Hutan, lapangan, bahkan jalan raya bisa menjadi taman. Yang terbayang adalah ketika sore hari bemain petak umpet atau bersepeda di taman, yang kala itu saya masih sekitar TK, sampai menginjak kelas 3 SD, kenangan bersama itu seperti terputus. Taman, seperti kata taman pada Taman Bermain, atau Taman Kanak-kanak. Kemudian saya ingat, Coyo! Dia sahabat saya yang bernama asli Cahaya, kami pernah bersama membuat tulisan tentang sebuah gerakan, Komunitas Taman Kota. Dan ternyata kenangan itu bisa dibuat lagi, tentang taman. Tidak boleh terputus...

Selamat Pagi, Bung! (Surat untuk Sang Prajurit)

Adakala Bung melempar senyum tidak perduli.
Aku paham, Bung mengingat dalam hati.
Apa daya Bung terlalu jaga diri.
Aku berada di antara Bung, bergembira.
Mencoba mengais restu ayah bunda.
Merajuk jalan alam semesta.
Menjadi pemuja harapan dalam doa.
Sejenak tawa Bung tiada lepas.
Percaya waktu akan lewat.
Aku menanti mata Bung yang selalu basah itu indah.
Semangat genderang untuk diri.
Bung berseru, bagian dari bumi.
Aku tidak pernah berhenti mengagumi.
Meski zaman membunuh dirinya sendiri.

Mencari celah, meminta Tuhan pertimbangkan arah.

Selamat Pagi, Bung!

(Buatku, setiap orang berhak dan wajib jadi prajurit untuk tetap melihat esok hari dengan keteguhan hati. Untuk Galih: terus semangat ya!)

Tiaradewi :)

Bekasi, 23 Des '12

Wednesday, November 30, 2011

HUJAN BERSAMA

Lihat hujan. Apa kamu melihatnya? Perlahan saja. Lebih perlahan lagi.

Apa kamu masih saja tidak melihat hujan. Aku rasa jalanmu terlalu terburu-buru. Apa kamu memiliki janji dengan seseorang? Silahkan saja, saya tunggu di tempat ini. Lekaslah! Aku rasa hujan masih akan menunggu.

Atau kamu tidak memiliki janji dengan siapapun atau apapun untuk di temui?
Kalau begitu berjalanlah lebih lambat. Aku ingin kamu melihatnya. Sudah terlihatkah??

Akh, terang saja. Tatapanmu terlalu tajam. Aku ingin kamu melihat hujan. Lihatlah hujan itu! Lihat dari atas. Perhatikan baik-baik. Bukan latarnya. Ikuti hingga hujan jatuh.

Kau pusing? Kebingungan? Jangan lihat satu persatu, lihat saja dia sebagai hujan. HUJAN! Bukan setetes air.

MENYENANGKAN BUKAN? Kalau sudah begitu, mari kita dengarkan lagu ini. Kita bagi dua, kalau ada pembesar suara akan aku perdengarkan pada makhluk lain. Bersama hujan.

Apa waktumu telah tiba? Baiklah, selamat tinggal. Aku tidak akan menunggu. Tapi nanti kita pasti bertemu kembali, karena hujan juga harus pergi.


tiaradewi :)

Inspirasi datang dari hujan, awan, dan pohon dari pemandangan kantin kampus. Waktu itu sedang mendengarkan playlist syahdu bersama sahabat saya Milzam.

Saturday, July 3, 2010

Perhatikan (Sekeliling) Langkah Anda!

Tau apa yang mereka pikirkan saat seseorang sedang dalam perjalanan? Bukan perjalanan hidup yang saya maksud, tapi perjalanan dalam arti sebenarnya. Ketika sedang berdesakan dalam kendaraan umum, menabrak angin diatas motor atau terbengong didalam mobil ditengah kemacetan. Jawaban yang amat sangat berat untuk dapat mengetahui apa yang mereka pikirkan, apa yang mereka bayangkan. Tapi apa anda ingat, apa yang anda pikirkan di perjalanan setelah sampai tempat tujuan? Sepertinya tidak selalu, apalagi tidak ada hubungannya dengan dengan fantasi tujuan anda. Coba resapi yang anda pikirkan itu adal ah suatu hal besar yang tidak terbayangkan sebelumnya (mungkin kata tdiak terbayangkan ini yang membuat kita tidak akan membayangkan hal yang sama untuk kedua kalinya), HAHAHA, APAKAH ANDA MENGERTI APA YANG SEDANG SAYA KATAKAN BARUSAN? 

Jika tidak coba ikuti saja alurnnya. Suatu ketika anda sedang menghadapi ujian hidup, apa saja. APA SAJA! Ujian kelulusan, ujian untuk menemui orang tua pacar anda, ujian untuk menahan buang air, ujian untuk menghadapi permasalahan YANG SEDANG ANDA HADAPI DETIK INI. Itu adalah ujian terbesar. Karena hanya anda yang mengalaminya untuk saat itu, dan setiap dari anda termasuk saya akan berbicara seperti itu. Tapi saat ini coba menoleh dan melupakannya sejenak dan memikirkan sesuatu yang tidak terpikirkan, bahkan sesuatu yang sama sekal tidak besar. YAH hampir SEMUA ORANG BERFIKIR BAHWA SESUATU YANG “TIDAK PERNAH TERPIKIRKAN” ITU ADALAH SESUATU YANG (HARUS) HEBAT.

Sunday, June 28, 2009

Teruslah Hidup..





Saya sedang berhenti sejenak untuk memandang sebuah perjuangan.


Bagaimana mereka bisa tersenyum, kemudian kaki mereka terkoyak batu karena alas kaki yang tidak membatasi antara bumi yang panas dengan telapak kakinya? Bagaimana mereka bisa tetap berbelas kasih, ketika jutaan mata yang melewatinya adalah orang yang mengasihaninya? Kemudian berlalu..

Tapi alangkah kokohnya karena dia tetap hidup dan mengidupi, bukan karena kalian. Bukan karena saya! (sama sekali)


Mereka hidup di ribuan kilometer dengan alas kaki yang sama. Masih tetap panas.
Mereka hidup dengan dingin ketika malam dengan mudah menyusup di sela serat kain.
Mereka hidup di lubang sampah. Yang mereka makan.
Mereka hidup dengan berat yang tidak bisa diletakan sejenak untuk membaca koran.
Tp tidak termasuk yang mereka hidupi. Karena karena hanya ikhlas, mereka merasa harus tetap hidup.

Saya terlalu ingin tahu kapan mereka ingin menangis...

Setelah ini saya merasa tidak pantas untuk berpendapat tentang mereka, apalagi mengasihani.
Karena mereka lebih hebat. Dan mampu membuat saya malu.

Kegelapan malam. Di pelosok jalan dengan sejuta perjuangan, bukan ruangan gelap gemerlap dengan sejuta uang..





Friday, June 12, 2009 at 6:01pm

tiaradewi :)

Untung Saya Punya

Sepotong dari wacana di dalam file lama Tiara:

Rasa syukur itu datang ketika kita mencoba berempati sama orang lain. Mencoba membayangkan jika kita nggak punya apa yang sudah kita punya sekarang..

coba urut sendiri apa yang kita punya: - nggak akan cukup pake kata-kata -

Banyak orang lain yang nggak punya salah satu, salah dua, salah tiga, dan salah semua dari daftar milik kita. Belajar bersyukur berarti belajar menghormati apa yang sudah kita punya. Otomatis, kita pun akan diperlakukan yang sama. Entah sekarang, entah nanti. Selamat bersyukur!

Candra Widanarko.

copy from my notes on facebook.
written at Sunday, January 4, 2009 at 1:50pm