Showing posts with label perempuan. Show all posts
Showing posts with label perempuan. Show all posts

Wednesday, February 25, 2015

Gadis Kretek, Riwayatmu

Konon katanya, kretek orang kita itu yang paling nikmat. Harganya bisa jadi mahal sekali kalo di luar negeri. Asapnya liar membawa harum aroma cengkeh menyeruak ke sudut-sudut ruangan, hinggap di sela gusi, menempel di kain dan bersembunyi di balik kuku jari yang menguning. Seperti ayam KFC, tentu kretek punya saus rahasia.


Kretek menyimpan cerita dalam perjalanan panjang sebelum ia menjadi backround jalan protokol kota dan menjadi foreground warung-warung kecil di pinggirannya. Sebelum, ia menimbulkan banyak sekali protes, mungkin protes muncul sebab kretek sudah mulai bersifat menguasai, tak terkendali. Ratih Kumala menggunakan barikade perspektif yang cukup kuat untuk mengisahkan Gadis Kretek. Idenya mampu bermanuver sedemikian rupa untuk menghindari peluru subyektifitas pro-kontra rokok, sehingga persoalan “merokok membunuhmu” tidak muncul sebagai gangguan dalam romantisme Gadis Kretek (meskipun nyatanya novel ini menuai banyak protes).

Gadis Kretek adalah keturunan dari para leluhur kretek yang menemukan jalannya di dalam sejarah Indonesia, khususnya Pulau Jawa. Dia ditakdirkan lahir dari tangan-tangan pegiat kretek, yang 'giat' dalam arti kata sesungguhnya. Cerita yang penuh riwayat, cerita yang menyeluruh: Gadis Kretek sebagai bagian dari penghidupan besar di kota-kota kecil, sebagai saksi hidup kemerdekaan dan korban porak-poranda pembantaian atas tuduhan propaganda. Sesuai namanya, Gadis, ia akan jadi ibu kretek yang nantinya melahirkan anak-anak kretek yang tumbuh dewasa dan kokoh.

Kretek bagi saya, tidak sama dengan produk bisnis kapital lainnya, selain pro dan kotra yang bersarang di dalamnya, kretek melibatkan rasa, menyimpan luka sekaligus cinta dan tak lupa, intrik. Sayang Ratih Kumala agak malu-malu untuk lebih dalam menyelam dan mengambil data dari dasar untuk diluapkan ke permukaan. Gadis Kretek sepertinya Kronik Betawi yang mendewasa.

Tiaradewi :)
Bekasi, 26 Feb 2015

Saturday, November 16, 2013

Rupa Rumpi dalam Butik Kebaya

“Ini lehernya kelebaran, Mba.”

Oh ini, nanti mah bisa dikecilin.” Pegawai butik ini mengambil beberapa jarum, menjepit beberapa di giginya, sementara tangannya mengkaitkan jarum yang lain ke bagian leher gaun untuk penanda ukuran lingkar leher yang akan diperkecil. Gaun yang sedang berkaca di dalam sekotak ruang ganti itu dipakai Ibu muda, cantik tanpa riasan make up kecuali alisnya yang dibubuhi sedikit pensil alis. Gaun yang dia kenakan berwarna merah muda agak keunguan, bagian atasnya berbalut kain brokat, dan bagian bawahnya berbahan shifon berwarna senada menjulur panjang. Bagian brokat dengan bagian bawahnya dibatasi oleh kain metalik yang melingkari pinggang bagian atas, menampakan perutnya yang membuncit karena usia kehamilannya yang memasuki bulan ke-5.

“Eh,mba, kayaknya punya aku ini mau dikasih payet deh. Biar nggak polos-polos banget.”

Boleh, bisa kok nanti sekalian dikecilin yak, Senin wes jadi.”

“Maaaas, sini deh! Ini lengan sama lehernya aku tambah payet-payet ya? Kosong nih gini doang..”

Si mas manggut-manggut.

“Nambah berapa biayanya emang kalo dipayet-payet?”

….

Saturday, July 27, 2013

Dila

“Capek, cewek harus gini harus gitu..”

“Harus gini gitu gimana?”

“Dila nggak boleh keluar malem, Dila harus bisa masak, Dila harus nurut sama suami kalo nanti udah nikah…”

“Ha? Emang Dila mau nikah sama siapa Dil??”

“Yey, bukan mau nikah sekarang. Tapi bapak emak Dila selalu bilang gitu. Tadi gara-gara Dila ijin mau pergi nanti malem”

“Nanti malem? Ini juga udah jam 11, Dila. Mau pergi jam berapa? Dila mau ke mana? Ngafe ya? Gaul amat lu, Dil.”

“Sotoy lu, sama aja kayak emak ama bapak.”

“Mereka sotoy karena takut elu ngapa-ngapa. Sama, gua juga takut lu digebet cowok laen.”

Tuesday, January 15, 2013

Nyi Roro Kidul, Horor dan Pembelajaran

Semalem, sayup-sayup kedengeran suara dari televisi. Pembahasannya begitu mistis, sarat dengan penculikan ajaib, bencana, dan bla bla bla… Ternyata saya ketiduran ketika tv belum dimatikan. Sambil mencari remote tv, mata yang udah sepet banget ini ngeliat makhluk-makhluk berwarna hijau muncul di acara tv itu. Ternyata itu talkshow, Bukan Empat Mata Si Tukul. Yang saya ingat, komposisi orang-orang yang duduk di deretan talk show itu terdiri dari Pepy, Bapak Gelap, Ibu (kebaya) Ijo, Wanita Cantik berbaju ijo (yang katanya artis), dan Tukul.

Denger dari sayup sayup pembahasannya sih mistis, ditambah lagi suara backsoundnya. Seperti biasa, dengan bahasannya saat itu: Ratu Pantai Selatan, Indonesia selalu jadi mistis dan horor. Ibu Ijo bercerita …....... Hm, mungkin ketika dia cerita saya masih tertidur. Yang saya simak adalah ketika dia lagi di pantai di luar negeri ada gelombang yang sangat besar sampai menghanyutkan banyak orang di sana, tapi dia tidak basah sedikitpun. Gelombang laut yang datang seolah menghindari sekeliling badannya, atau bahasa lainnya si Ibu Ijo itu ‘dilindungi’. Sementara Bapak Gelap, yang pakaiannya emang item-item, menceritakan pengalamannya melukis rupa Ratu Pantai Selatan, dan lukisannya malam itu menjadi pajangan di studio talkshow.

Perempuan dan Horor