Saturday, November 16, 2013

Bab Terakhir Kiki

Tiap baca buku yang menarik buat saya, bab terakhir itu sama aja kayak makan baso telor. Si baso yang isinya telor, harus diselamatkan untuk bisa dinikmati paling akhir. Kalau bahasa populernya sih, save the best for the last.

魔女の宅急便 Majo no Takkyūbin
Nah, ketika itu saya lagi gembira banget baca Kiki dan Jiji kucingnya di buku Titipan Kilat Penyihir, yang lebih popular disebut dalam bahasa Inggrisnya: Kiki’s Delivery Service, karangan Hayao Miyazaki. Buku ini bercerita tentang Kiki si penyihir yang akan melewatkan usia ke-13-nya dengan pergi dari desanya. Kiki bukan melarikan diri, tapi begitulah tradisi para penyihir, mereka pergi di usia 13 bersama kucing peliharaannya untuk merantau ke kota lain selama kurang lebih satu tahun. Kisah Kiki diwarnai dengan congkaknya Jiji – kucing kesayangan Kiki – dan Tombo, teman baru Kiki di kota tempat dia merantau. Tombo adalah peneliti kecil, peneliti alat-alat penerbangan, karenanya ia tertarik pada Kiki dan sapu terbangnya. Di sisi lain, memang keahlian Kiki sebagai penyihir memang cuma satu: terbang dengan sapu yang bisa terbang. Kadang Kiki merasa tidak percaya diri karena keahliannya satu-satunya itu, sementara penyihir lain yang ditemuinya mampu meramal. Keahlian penyihir memang semakin lama semakin punah.

Bab paling akhir buku cerita ini, jadi hadiah buat saya. Save the best, adalah ungkapan yang tepat. Tepat ketika saya mendapat persetujuan untuk sidang akhir, saya menyelesaikan bab terakhir Kiki yang sudah saya anggurin paling tidak dua minggu.

Kiki dan saya sama-sama kembali ke rumah setelah sekian lama jauh. Dan, tidak lama pergi lagi ke perantauannya untuk melanjutkan kehidupannya sendiri. Dengan kemampuannya yang tunggal itu, Kiki bisa berbagi untuk banyak orang. Saya bersemangat untuk bisa melakukannya, semoga…



Tiaradewi :)
Bekasi, 17 November 2013

No comments: