Sunday, December 17, 2017

(Bukan Ulasan) Free to Laugh


Menjelang akhir tahun, Agustus, 2011. Hampir tiap Jumat yang hujan, naik motor pinjaman, saya bersama Bacil melaju lintas kecamatan: Jatinangor-Gegerkalong. Beruntung, tempat tujuan kami menyediakan layanan cuci helm. Sepatu, kaos kaki, dan tidak lupa, helm motor bisa wangi bebas lembab. Atau, kalau segan, kami senderkan saja benda-benda itu di blower ac yang bunyinya agak kuno, terus duduk nyeker di sofa kulit hitam garasi yang jadi ruang tengah. Sambil menunggu, entah menunggu apa.

“Should I give up? Or should I just keep chasin’ pavements. Even if it leads nowhere?”

Lagu itu rutin di-stel keras-keras lewat komputer yang ada di ruang tengah. Kadang nada-nada Caspian juga berebut untuk dapat giliran memenuhi ruangan, ditambah wangi nasi padang bungkusan jam makan siang. Kadang ada juga tamu atau teman lama, atau siapa saja datang menyapa, benar-benar siapa saja. Tapi, yang tidak pernah tidak hadir di sana: tawa. Bahkan, kalau ada emosi yang sedang keras dan nyaring, selalu ada yang tertawa di celah-celah giginya.

Kurang lebih tiga bulan, rutinitas akhir pekan itu tumbuh subur di memori saya, membawa saya kembali dua tahun setelahnya untuk merekam setiap hari, semua tawa yang membuncah ketika saya di sana. Sayangnya saya tidak ahli bikin cerita fiksi. Alih-alih masuk Gramedia, rekaman itu dibungkus sampul kuning dengan simbol Padjadjaran dengan jumawa.

Sekarang, 2017, sudah lebih dari lima tahun. Kalau dibuka lagi mungkin rekaman itu bikin sakit mata, tulisan kocar-kacir, namun, prosesnya melekat. Dan, saya bisa tertawa kalau ingat-ingat. Tahun di mana saya mulai tidak lagi banyak menangis, tidak lagi membayangkan alam baka dengan mata terbuka, tidak lagi terpenjara dalam diri sendiri, kalaupun iya itu masih terjadi, setidaknya saya punya berbagai cara mengatasinya.

Bukan karena masalah-masalah kehidupan sirna, nona.

“Something about laugh is that, it is very healing.”

Free to Laugh sebuah film dokumeter yang bikin saya berlinang-linang, mengingatkan saya tentang apa yang pernah saya rekam tentang Rumah Cemara dan kepercayaan saya soal tertawa. Definisi-definisi dalam syarat akademik itu sudah runtuh dalam benak saya. Kita semua hanya rangkaian cerita-cerita yang rentan, mudah basah, mudah putus, mudah berjamur, mudah sakit, sama saja: pecandu, narapidana, odha, disabilitas, mentally disorder, dan lain-lain. Bagi saya, tertawa tidak harus ada pada oposisi biner dengan kesialan, kesedihan atau kemarahan. Bahkan di titik terendah manusia, tertawa harus ada di sana.

“Your story is not define you, it is just part of your story ... there are so many chapters left to be written.”

Tiaradewi :)
Freiburg, 17 Desember 2017

*terimakasih Rumah Cemara dan siapapun di dalamnya.



Sunday, July 2, 2017

Of Mice and Men

"I got you to look after me, and you got me to look after you."


Lennie Small yang berbadan besar dan bodoh, selalu percaya bahwa George yang sabar dan pintar akan selalu bersamanya.

Lennie tidak bisa banyak berpikir, apalagi mengingat. Depresi besar perekonomian kala itu tidak menyentuh kepala Lennie-Lennie di dunia ini. Lennie hanya tau bahwa iya telah dianggap melakukan kesalahan dan harus mencari pabrik jelai lain untuk mendapatkan upah. Namun, Lennie selalu menyimpan keyakinan:

Ia yakin suatu hari nanti dirinya dan George akan mengumpulkan uang dan membeli rumah kecil, beberapa bidang tanah, dan sapi dan beberapa babi, dan hidup di tanah yang subur. Mereka akan menanam apapun di kebun – ceri, apel, aprikot, kacang – dan kelinci di kandang, juga memeroleh susu dengan krim yang tebal. Saat hujan turun di musim dingin mereka akan katakan persetan dengan kerja dan mereka akan membuat api di perapian sambil mendengarkan suara hujan yang menyentuh atap rumah mereka.

Sementara George... George lebih banyak berpikir daripada Lennie. Seorang George menjadi kepala bagi Lennie untuk berpikir bagaimana mereka bisa terus hidup. Malang, dengan otak pintarnya, George berpikir cara untuk hidup, mungkin, adalah dengan melenyapkan keyakinan-keyakinan itu… mungkin. 

John Steinbeck sungguh-sungguh melukiskan kemalangan depresi besar perekonomian Amerika hanya dengan lembaran tipis cerita.

Sleman, 2 Juli 2017
Tiaradewi :)

Buat Izmy, terimakasih hadiah ulang tahunnya 💙

Wednesday, June 7, 2017

Sketches













De Angelis tentang Program Perampasan Berkelanjutan

Ketika tulisan ini hendak dibuat, Selasa, 21 Maret 2017 hilir mudik berita duka di berbagai media daring tentang meninggalnya salah seorang dari perwakilan petani Kendeng, Ibu Patmi. Ia meninggal setelah kurang lebih sepekan (15-21 Maret 2017), bersama sekitar 50-an orang lainnya, melakukan aksi pengecoran kaki dengan semen sebagai penolakan terhadap PT Semen Indonesia di kawasan karst Pegunungan Kendeng.

                Aksi pengecoran kaki dengan semen oleh para petani dan aktivis Kendeng, hanyalah satu dari sekian banyak gerakan di Indonesia untuk melawan dan mempertahankan wilayahnya dari “pemagaran” yang dilakukan oleh perusahaan maupun proyek atas nama pembangunan negara. Kita dapat temukan lagi gerakan serupa seperti, misalnya, warga Taliabu di Maluku Utara yang melawan perusahaan tambang, atau juga gerakan Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi (ForBALI) dan lain sebagainya. 

“Pemagaran”, sebagai upaya untuk membatasi kepemilikan atas tanah-tanah, muncul di dalam Capital Volume I yang ditulis Marx melalui konsep “enclosure”. Namun, bagi ahli ilmu politik Ellen Meksins Wood, dalam bukunya The Origin of Capitalism, pengertian enclosure tidak boleh dipandang hanya sebagai pemagaran fisik. Namun, jauh lebih mendasar, enclosure adalah penjungkir-balikkan, penghancuran dan penghilangan hak-hak milik bersama dan hak menggunakan tanah atau sumber daya alam di mana penduduk menggantungkan hidupnya.[1] Di dalam gagasan primitive accumulation yang dituliskan Marx, akan kita temukan, di atas tumbangnya hak-hak itulah kapitalisme tumbuh. Akan tetapi, jika enclosure diletakkan di dalam kerangka genealogis linier yang menandai lahirnya kapitalisme, maka pertanyaannya adalah apa yang sedang dilakukan para Petani Kendeng atau warga Taliabu atau ForBALI dan berbagai gerakan perlawanan pada hari ini? Bukankah sejarah mengatakan kapitalisme telah lahir menggantikan segala feodalisme pada masa lampau? Apa ada perlawanan yang bisa ‘mengganggu’ kapitalisme selain dengan menggantinya dengan ‘isme’ yang lain? Revolusi?

Kerangka genealogis linier Marx kemudian menghasilkan suatu sikap pesimistik, bahwa kekuasaan tidak dapat dilawan dari bawah, karena perubahan hanya bisa dilakukan dengan mengganti kapitalisme dengan ‘isme’ yang lain, dan ‘isme’ yang lain itu hanya bisa diperoleh dengan kekuasaan ‘di atas’, bukan ‘di bawah’. Sudut pandang Marx terhadap enclosure ini yang kemudian dikritisi dan diintepretasikan kembali oleh Massimo De Angelis (2004).

Jan Horst Keppler tentang Adam Smith

Adam Smith
“Do you know Adam Smith, the man, the myth, his work?” Keppler, dalam kalimat pembukanya menunjukkan bagaimana Adam Smith telah menjadi “momok” di dalam diskusi sosial ekonomi politik. Membicarakan Adam Smith berarti pula menatap jejak kelahiran teori ekonomi politik yang melandasi sistem ekonomi pasar yang kapitalistik hari ini. Adam Smith, bisa dikatakan adalah pemikir paling berpengaruh dalam sejarah pemikiran ilmu ekonomi. Itulah sebab, beberapa dari kita mengenal Adam Smith justru melalui kritik Karl Marx terhadap ekonomi politik, das Kapital [1]. Melalui Adam Smith and the Economy of Passions, Jan Horst Keppler mengajak kita membaca pemikiran Adam Smith. Khususnya melalui karya Smith yang terkenal dan dianggap paling berpengaruh terhadap kemunculan ilmu perekonomian modern: The Theory of Moral Sentiments (1759) dan The Wealth of Nations (1776). Bagi Keppler, sudah terlalu banyak kajian mengenai Adam Smith yang dengan mudah melakukan penyederhanaan, sehingga pembaca dengan mudah pula menyimpulkan pemikiran Smith. Untuk menghindari simplifikasi tersebut, Keppler menganjurkan untuk lebih respect, membuka mata, telinga, dan mengurangi prasangka.

Mekanisme Simpati

Manusia, menurut Adam Smith, menghadapi dua proses paradoks yang berimplikasi pada perilaku mereka. Kedua proses tersebut tersebut adalah mekanisme simpati (sympathy mecanism) dan proses etika personal yang terstruktur dalam gagasan impartial spectator. Tulisan ini adalah semacam review yang bermaksud untuk membahas mekanisme simpati yang merupakan gagasan penting Smith dalam mengawali teori ekonomi politik.

Simpati dalam gagasan Adam Smith bukan merupakan tindakan altruisme yang mengarah pada kemurahan hati yang tanpa pamrih. Dengan demikian, dalam memahami mekanisme ini, perlu pembedaan antara gagasan simpati dalam artian positif dan normatif. Mekanisme simpati dalam pengertian normatif justru cenderung mengarah pada etika personal yang menghubungkan manusia dengan impartial spectator [2]. Mekanisme simpati menekankan simpati dalam pengertian positif, yaitu bentuk persepsi yang dihasilkan dari hubungan timbal balik antara manusia dengan masyarakatnya.  Dikatakan oleh Smith bahwa, “humanity does not desire to be great, but to be loved” (Smith, 1759). Namun, ini tentu saja tidak sesuai dengan kesimpulan yang seringkali kita dengar mengenai sifat individual masyarakat ekonomi modern? Lalu, bagaimana kapitalisme bisa didasari oleh rasa cinta?

Wednesday, February 25, 2015

Gadis Kretek, Riwayatmu

Konon katanya, kretek orang kita itu yang paling nikmat. Harganya bisa jadi mahal sekali kalo di luar negeri. Asapnya liar membawa harum aroma cengkeh menyeruak ke sudut-sudut ruangan, hinggap di sela gusi, menempel di kain dan bersembunyi di balik kuku jari yang menguning. Seperti ayam KFC, tentu kretek punya saus rahasia.


Kretek menyimpan cerita dalam perjalanan panjang sebelum ia menjadi backround jalan protokol kota dan menjadi foreground warung-warung kecil di pinggirannya. Sebelum, ia menimbulkan banyak sekali protes, mungkin protes muncul sebab kretek sudah mulai bersifat menguasai, tak terkendali. Ratih Kumala menggunakan barikade perspektif yang cukup kuat untuk mengisahkan Gadis Kretek. Idenya mampu bermanuver sedemikian rupa untuk menghindari peluru subyektifitas pro-kontra rokok, sehingga persoalan “merokok membunuhmu” tidak muncul sebagai gangguan dalam romantisme Gadis Kretek (meskipun nyatanya novel ini menuai banyak protes).

Gadis Kretek adalah keturunan dari para leluhur kretek yang menemukan jalannya di dalam sejarah Indonesia, khususnya Pulau Jawa. Dia ditakdirkan lahir dari tangan-tangan pegiat kretek, yang 'giat' dalam arti kata sesungguhnya. Cerita yang penuh riwayat, cerita yang menyeluruh: Gadis Kretek sebagai bagian dari penghidupan besar di kota-kota kecil, sebagai saksi hidup kemerdekaan dan korban porak-poranda pembantaian atas tuduhan propaganda. Sesuai namanya, Gadis, ia akan jadi ibu kretek yang nantinya melahirkan anak-anak kretek yang tumbuh dewasa dan kokoh.

Kretek bagi saya, tidak sama dengan produk bisnis kapital lainnya, selain pro dan kotra yang bersarang di dalamnya, kretek melibatkan rasa, menyimpan luka sekaligus cinta dan tak lupa, intrik. Sayang Ratih Kumala agak malu-malu untuk lebih dalam menyelam dan mengambil data dari dasar untuk diluapkan ke permukaan. Gadis Kretek sepertinya Kronik Betawi yang mendewasa.

Tiaradewi :)
Bekasi, 26 Feb 2015

Thursday, December 4, 2014

Years of The Hundred Year Old Man

Allan Emmanuel Karlsson tidak pernah menyangka hidupnya akan mencapai 100 tahun, kalaupun tidak, sepertinya ia tidak akan mempermasalahkan itu. Allan tidak pernah berlama-lama mempertimbangkan sesuatu, ketika semua orang di dekatnya telah mempersiapkan hari jadinya yang ke 100, ia sudah jauh lebih siap untuk keluar diam-diam lewat jendela. Selagi semua orang mencari ke mana kakek berusia seratus tahun pergi, Jonas Jonasson juga mengajak melintasi apa yang terjadi selama 100 tahun ke belakang.


“Revenge is like politics, one thing always leads to another until bad has become worse, and worse has become worst.” 

Seratus tahun waktu yang cukup panjang untuk menjelajahi gejolak apa saja yang menjadi perhatian dunia. Dipersilahkannya kakek berusia 100 tahun ini membeberkan kisah hidup dengan detail yang fantastis sekaligus imajinatif (dan masih berlangsung setelah 100 tahun!). Penulis paham betul bahwa sejarah tidak akan pernah tidak berpihak dan bahwa kebenaran tidak manunggal. Allan bukan tokoh utama dengan figur yang istimewa, dia hanya salah satu dari mereka yang selamat dari perang dunia. Allan juga tidak memiliki pemikiran politis yang idealis, pun ia bukan seorang spiritualis. Allan adalah pihak untuk Allan, dan satu-satunya kebenaran hakiki adalah pengalamannya sendiri. Allan adalah bentuk humor yang utuh tentang manusia dan segala ketakutan hidup diantara keberpihakan dan kebenaran tersebut. Bahwa hidup akan selalu bertanya apa yang telah kamu lakukan, bukan apa yang kamu pikirkan.

“Things are what they are, and whatever will be, will be.”

Buat saya, buku ini bukan sekedar humor permainan kata untuk merayakan seratus tahun kehidupan, buku ini mampu melucu sepanjang perang dunia, sejauh Himalaya, sedahsyat bom atom, sekeras Stalin, sesombong Amerika, sekejam Suharto, seluas Tiongkok.. after all Jonasson really deserve to be put in jain because of his sense of humor.

If you've ever asked yourself, "Should I ...", the answer is "Yes!". If not, how do you know that the answer is no? – Jonas Jonasson


Tiaradewi :)
Bekasi, 5 Desember 2014

Tuesday, November 4, 2014

Refleksi #2

Pada suatu perjalanan ke sebuah daerah pesisir, rekan saya, Ita membeli sebuah deodorant di salah satu mini market terbanyak di negeri ini. Deodorant yang, saya pikir, sama persis merk dan ukurannya dengan milik saya. Sesampainya kami di rumah tempat kami menginap,
"Nih, Ta. Sama banget kan?"
"Ih, punya lo kok kecil banget sih. Yang gue beli tadi gede, nggak ada yang kecil gitu."
Kemudian, saya TIDAK meminta Ita menunjukkan deodorant yang baru dibelinya untuk melihat seberapa perbandingan besar botol deodorant milik saya dengan miliknya.

Pikiran saya melesat pada pengalaman mata, hati dan telinga. Mereka berkata, mengingatkan: 
Tak perlulah buat perbandingan dalam perbedaan, Yay.


***
4 November 2014
Tiaradewi :)

Wednesday, October 1, 2014

Refleksi #1


Ada perang hebat yang terjadi antara saya dan diri saya. Perang hebat antara kepala dengan kaki. Antara lidah dengan tangan. Antara siang dan malam saya. Antara mimpi dan kenyataan. Perang yang sepi, seperti perang dingin. Sampai akhirnya terjadi gencatan senjata. Saya menangis sejadi-jadinya. Marah sebesar-besarnya. Menyesal sedalam-dalamnya.

Lalu dalam gencatan senjata, saya mencoba mengingat-ingat. Apa yang terjadi dengan bagian-bagian dari diri saya ini? Saya terlalu overthinking.

***

Telpon berdering ‘kriiing’! Terdengar suara, “Halo, Tiara? Mamah ada?” jawab suara diujung sana. “Ada, tunggu sebentar ya tante!” Saya menjawab dengan dengan penuh semangat. Tiba-tiba kaki saya terasa mengecil, rumah saya terasa membesar. Ibu, yang sedang menjahit di meja ujung rumah, terlihat jauh. Saya berlari sekuat tenaga menuju ke sana, ‘chkiiiiitttt..!’. 
“Ibuuk, ada telpon dari Tante Lani!” Sambil berlaga seperti agen rahasia yang sedang berhati-hati, tidak lupa tangan bergaya seperti sedang memegang pistol. Ibu harus terselamatkan sampai tersambung ke Agen Lani. 
“Kamu tuh, Ya. Ngapain sih di dalem rumah lari-larian!?”

Karena, menjadi kecil adalah sesuatu yang sangat menyenangkan, memperhatikan dengan baik setiap jaraknya, dan selalu berada di tempat yang lebih luas dari kelihatannya. Awas nabrak!

***

(09:00) Damn, udah panas! Besok saya harus bangun pagi, jam 6. Pasti seger banget deh, masih bisa peregangan ngerasain matahari terbit. Lari pagi. Beli nasi uduk.

(21:00) “Yayaaa, main Get Rich yuk!”

(23:00) Hoaaahm. Kalo baca buku pasti deh cepet ngantuk...

(02:00) Menutup seluruh badan dengan selimut ... harus cepet tidur kalo gak mau sakit lagi livernya, kan nanti bangun pagi. Katanya mau jadi morning person?

(02:30) Menyibak selimut. Hhhaaahh pengap!

(10:00) Damn!

***

Bersambung ...

2 Oktober 2014
Tiaradewi :)

Sunday, May 18, 2014

Lachen is Gezond

Tertawa itu sehat. Sehat itu priceless...
Akhir-akhir ini, saya sering sakit, saya sedang kangen sama banyak hal. Sampai-sampai saya bingung, kenapa banyak sekali ya? Setelah melalui berbagai kontemplasi di kamar mandi, saya jadi paham, ‘banyak hal’ yang saya kangenin itu punya benang merah yang menghubungkan satu sama lain... Tertawa! Iya, saya kangen ketawa “ha ha ha ha” gitu!

Bukan hanya bikin saya jadi sarjana, tapi tertawa membuat saya belajar banyak sekali hal. Karena itu, tertawa membuat saya kangen sama banyak hal.

Mungkin karena rasanya enak. Tertawa dengan dengan sungguh-sungguh karena suatu hal yang lucu itu bagaikan perpaduan ragawi, duniawi dan surgawi. Kemudian, mereka beri petanda fenomena itu dengan sebutan: humor.

Humor, dalam doktrin ilmu Faal Kuno, adalah cairan dalam tubuh manusia yang terdiri dari empat macam: cairan darah, lendir, cairan empedu kuning dan cair empedu hitam. Berabad-abad lamanya, nenek moyang kedokteran kita menganggap keempat cairan tersebut menentukan temperamen seseorang.

Kini, humor dikatakan sebagai sesuatu yang merangsang kita untuk tertawa. Humor itu lucu. Begitu saja singkatnya. Kalau harus berfilosofi apa itu lucu? Tidak akan singkat. Karena resep penciptaan dalam tawa akan berkaitan dengan banyak hal di dunia. Benar-benar tidak singkat! Humor atau lucu, tumbuh dari campuran cairan dan zat-zat dalam tubuh dalam menanggapi situasi di luar logika yang umum disepakati. Kadang berlebihan, kadang terbalik, kadang berbohong, kadang polos, kadang naïf dan macam-macam lagi teknik berlogikanya. Tidak ada benar dan salah menurutnya, asalkan tertawa jadi akibatnya.

Efeknya juga mencengangkan, nyatanya, tertawa bisa meredakan amarah, bahkan menjadikannya lebih parah. Tertawa bisa mengagalkan tangis, bisa juga sampai menangis. Tertawa akan memusuhi rasa benci, dan kadang menertawakannya sendiri.
 
“Sebuah humor melawan stigma ketika semua orang menutup mata” - Mood Altering
Pada sekat-sekat logika manusia yang angkuh, tawa mencoba melepas isolasi dengan cara dan efeknya yang unik. Membentuk lingkaran isolasi baru yang lebih besar dan dihuni lebih banyak orang. Seperti dikatakan Bergson, bahwa tawa adalah implikasi dari semacam rahasia bersama dengan para penertawa lain, nyata maupun imajiner. Itulah mengapa tertawa bersama akan mencairkan manusia pada kelompok kelompok budaya dan mananggalkan perbedaan sedikit demi sedikit.

Kalau tawa bisa melakukannya untuk sebuah kumpulan manusia. Saya percaya, tertawa akan memberi fungsi sama bagi organ-organ dalam tubuh seseorang. Karena tertawa begitu kenyal dan elastis. Saya cukup menelannya, membiarkannya memasuki diri saya, mengenali semua keburukan di dalamnya yang sempat tidak begitu akrab satu sama lain. Tertawa akan menggapai hal-hal yang tidak bisa dilawan, tertawa bisa mencium mimpi-mimpi dan fantasi yang tidak bisa diciptakan, tertawa akan mengajak kecemasan saya untuk tertawa!

Saya kangen ketawa. Saya kangen mengerti bagaimana tertawa, saya kangen mempersilahkan otak saya berpikir tentang kelucuan, kemudian menyalurkannya ke perut sampai sakit, membiarkan otot meregang, membuka mulut untuk mulai ikut tersenyum. Saat itu terjadi, cairan dan zat-zat dalam tubuh saling bercampur, dinamis menggerus racun-racun pembawa sakit, membuncah keluar lewat mulut yang bersuara “HAHAHA!”

Lachen is gezond, tertawa itu sehat. Begitu kutipan yang diletakkan (Alm) James Danandjaja di halaman awal Humor Mahasiswanya, saya sepakat untuknya. Dengan tertawa, berarti saya sudah mengijinkan sebagian ingatan dimuntahkan bersama racun-racun tubuh saya, karena akan ada memori baru yang membekas setelah tertawa lepas. Mereka sebut dengan, indikasi kebahagiaan.
  
 “People laugh and tell jokes, and if you can learn the humor of a people and really control it, you know that you are also in control of nearly everything else”- Hall (1959/1968:56)

Terimakasih buat semua yang pernah membuat saya tertawa bahagia, kalian tidak ternilai :*

Bekasi, 18 Mei 2014. 01.54 wib
Tiaradewi  :)

Monday, April 28, 2014

Pak Abot

Jum’at petang, ketika Jakarta baru saja diguyur hujan dan menyisakan anak-anak gerimis yang merintik di genangan-genangan terminal Blok M. Langit senja mulai menua dan gelap. Aku sudah di atas bis kota yang sebentar lagi sesak. Kupilih duduk dekat jendela, bangku paling depan. Bis berjalan lamban keluar dari terminal, satu per satu kaki-kaki becek memenuhi bis. Jejak gerimis dibawa oleh blus blus berkerah penumpang bis. Deretan bis kota mengantri keluar dari terminal, berwarna-warni, berbasah-basahan.

Jauh di belakang bis yang kutumpangi, dialah pak Abot. Pria usia limapuluhan, berbadan gemuk, sampai perutnya membuncit, badannya tidak bisa dibilang tinggi. Mungkin terlihat lebih pendek karena badannya yang gempal. Dari belakang, dia mencoba berlari kearah bis yang aku tumpangi. Aku pikir dia berlari, dia sedang berlari, dengan satu kakinya yang pincang. Wajahnya meringis menahan sakit di kakinya. Membawa kresek hitam, cukup besar, yang dipegangnya erat, erat sekali. Ujung celananya basah karena jalan becek. 

Tuesday, January 21, 2014

Tenang

Hari itu, mungkin tidak jauh ketika seorang laki-laki mengingat sembilan tahun yang lalu dan perjalanan di atas kereta di bangku tengah, menuju Jakarta. Kota oranye katanya. Aku tidak tahu menahu.

Di suatu malam gempita, waktu dan ceria membawa aku menjadi konyol. Laki-laki itu tertawa dengan kepala plontosnya, kepala yang di dalamnya menyimpan cerita sembilan tahun yang lalu dalam perjalanan di atas kereta di bangku tengah. Mendengar harmonica dan gadis yang berdansa sendirian, melambat dan tenang. Aku tidak tahu. Aku tidak tahu, kalau itu dia laki-laki yang dibicarakan orang-orang. Aku tidak perduli. Aku tidak mau tau.

Bagiku sudah lima tahun yang lalu, saja. Perjumpaan. Sejak hari itu, aku tidak tahu kalau aku menunggu.
....

Tuesday, January 14, 2014

In My Mind

And in my mind
I imagine so many things
Things that aren't really happening
And when they put me in the ground
I'll start pounding the lid
Saying I haven't finished yet
I still have a tattoo to get
That says I'm living in the moment
And it's funny how I imagined
That I could win this, win this fight
But maybe it isn't all that funny
That I've been fighting all my life
But maybe I have to think it's funny
If I wanna live before I die
And maybe it's funniest of all
To think I'll die before I actually see
That I am exactly the person that I want to be
Fuck yes
I am exactly the person that I want to be 

-Amanda Palmer-

Friday, January 3, 2014

The Orange Girl

Several days before he's gone, this father were tried to make a riddle. Despite, he won't be able to stand for longer to make a proper talk with his son, eleven years later they reconcilable by a remembrance of a story that they haven't been done together. The story named, The Orange Girl.
There are signs waiting to be interpreted in every senses. Mathematical and medical calculation considered as logical seek the truth from sequences of coincident.
The story across time in earth had been recorded by outer space. 
A story would to be it is, or you'd never been born.

The Orange Girl by Jostein Gaarder

Tiaradewi :)
2 Jan '14

Sunday, December 15, 2013

Mengingat Kembali: “Bisa Dèwèk” We Can Do It Ourselves (2007)

Sebuah Film Dokumenter Etnografi hasil kerjasama antara IPPHTI (Ikatan Petani Pengendalian Hama Terpadu Indonesia) Indramayu bersama Program Sarjana Jurusan Antropologi FISIP-UI.

“Kini kami mau menjadi pemulia tanaman, memproduksi benih idaman.”
Kalimat di atas menjadi kalimat pembuka yang mewakili kisah perjuangan petani pemulia tanaman di Indramayu dalam film ini.

Visualisasi wayang kulit yang dimainkan dengan sederhana oleh Pak Karsinah, menampilkan sosok Semar yang merepresentasikan sosok petani dan Samiaji sebagai pihak pemerintah. Dalam kepustakaan antropologi, keberadaan petani dipercaya sudah muncul 6000 tahun yang lalu di Mesopotamia. Keadaan petani yang kita kenal sebagian besar kini, berbeda dengan masyarakat primitif yang lebih lanjut. Dalam masyarakat primitif ketika pengolahan lahan sudah dilakukan, produsen benar-benar menguasai sarana produksi, termasuk tenaga kerjanya sendiri dan menukarkan tenaga kerjanya sendiri dengan barang atau jasa lain sebagai padanan yang ditentukan menurut kebudayaannya. Sedangkan, petani selalu menjadi bagian dari sitem ekonomi, politik, dan budaya yang lebih luas dalam kedudukan yang lebih rendah (Mulyanto, 2011: 208). Layaknya Semar sebagai abdi kerajaan yang mengabdi untuk memuliakan anak cucu pandawa, membahagiakan bangsa. Dalam kedudukan yang rendah, petani mengambil peran penting kehidupan, makanan.

Saturday, December 14, 2013

Maschera

Tiara's first painted mask
This world is a scene, where we don't need to race to the top. What we want to do is reach the other hand, then we get to know each other before we got to see what we looked like under the mask. No matter what faces we use, we will continue to dance and fall in love.
- Tiaradewi -



Dec 14th 2013
Photos from Google and Deviantart

Sunday, November 17, 2013

Saving General Yang (2013)

War is the root of all misfortunes, so how be the lucky ones?

Perang dan hubungan diplomasi diantara Dinasti Song dengan Bangsa Khitan sudah berlangsung sejak didirikannya Dinasti Song oleh Kaisar Taizu (960-976) dalam memperebutkan daerah kekuasaan. Yang Linggong (Adam Cheng), seorang Jendral dari klan Yang yang ternama pada masa dinasti Song Utara bersama Pan Renmei (Bryan Leung) – yang mana Pan mengajukan diri kepada Kaisar Taizu untuk dapat memimpin Song dalam perang – diutus berperang melawan bangsa Khitan dari Dinasti Liao yang dipimpin oleh Yelu Yuan (Shao Bing). 

Official Poster: Saving General Yang
Cerita rakyat klan Yang tentang kegigihan dan loyalitas militer terhadap Dinasti Song, diolah Ronny Wu menjadi drama kolosal penuh dendam dan pengorbanan yang melibatkan aktor-aktor China ternama.

Saturday, November 16, 2013

Bab Terakhir Kiki

Tiap baca buku yang menarik buat saya, bab terakhir itu sama aja kayak makan baso telor. Si baso yang isinya telor, harus diselamatkan untuk bisa dinikmati paling akhir. Kalau bahasa populernya sih, save the best for the last.

魔女の宅急便 Majo no Takkyūbin

Rupa Rumpi dalam Butik Kebaya

“Ini lehernya kelebaran, Mba.”

“Oh ini, nanti mah bisa dikecilin.” Pegawai butik ini mengambil beberapa jarum, menjepit beberapa di giginya, sementara tangannya mengkaitkan jarum yang lain ke bagian leher gaun untuk penanda ukuran lingkar leher yang akan diperkecil. Gaun yang sedang berkaca di dalam sekotak ruang ganti itu dipakai Ibu muda, cantik tanpa riasan make up kecuali alisnya yang dibubuhi sedikit pensil alis. Gaun yang dia kenakan berwarna merah muda agak keunguan, bagian atasnya berbalut kain brokat, dan bagian bawahnya berbahan shifon berwarna senada menjulur panjang. Bagian brokat dengan bagian bawahnya dibatasi oleh kain metalik yang melingkari pinggang bagian atas, menampakan perutnya yang membuncit karena usia kehamilannya yang memasuki bulan ke-5.

“Eh,mba, kayaknya punya aku ini mau dikasih payet deh. Biar nggak polos-polos banget.”

“Boleh, bisa kok nanti sekalian dikecilin yak, Senin wes jadi.”

“Maaaas, sini deh! Ini lengan sama lehernya aku tambah payet-payet ya? Kosong nih gini doang..”

Si mas manggut-manggut.

“Nambah berapa biayanya emang kalo dipayet-payet?”

….

Thursday, October 24, 2013

Surat Balasan untuk Bapak

"...gadis kecil yang baru saja bangun. Dia berlari-lari, di halaman rumahnya, menyusuri pepohon dan taman..."

Pertama kali denger Galih nyanyi lagu itu, aku langsung suka. Suka sekali. Terbayang bapak-bapak yang repot jagain anak perempuannya lari-lari dengan gaun yang mekar warna putih. Khawatir anak perempuannya jatuh, terus gaunnya jadi kotor.

Bapak adalah dimana laki-laki akan menjadi. Seperti halnya perempuan membicarakan kalau nanti dia akan menjadi seorang Ibu. Kesetaraan kan? Bukan keadilan. Maka, sekarang, akan aku cerita tentang bapak, seperti aku mengagungkan perempuan.